Sosialisasi Perikanan : Budidaya Udang Vaname - Dewan Pimpinan Daerah IPKANI Lampung | Ikatan Penyuluh Perikanan Indonesia Provinsi Lampung

Dewan Pimpinan Daerah IPKANI Lampung | Ikatan Penyuluh Perikanan Indonesia Provinsi Lampung

Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Penyuluh Perikanan Indonesia (DPD IPKANI) Provinsi Lampung

Breaking

Senin, 23 Desember 2024

Sosialisasi Perikanan : Budidaya Udang Vaname

 

Kamis (19/12/2024) lalu, bertempat di Balai Desa Purworejo Kecamatan Pasir Sakti, penyuluh perikanan Wilker Lampung Timur menjadi nara sumber pada kegiatan Sosialisasi Perikanan dengan tema Budidaya Udang Vaname melibatkan peserta sosialisasi sebanyak 30 orang pembudidaya udang.  Desa Purworejo terdapat tambak seluas 918,45 hektar dengan komoditas udang vaname, bandeng dan nila.  Untuk menambah wawasan para pembudidaya perlu adanya sosialisasi ini agar budidaya tersebut berkelanjutan dan bersertifikat CBIB.

Udang vaname (Litopenaeus vannamei) secara resmi diperbolehkan dibudidayakan di Indonesia berdasarkan Surat Keputusan (SK) Menteri Kelautan dan Perikanan RI. No. 41/2001 Pelepasan Varietas Udang Vaname Sebagai Varietas Unggul. Saat ini udang vaname menjadi komoditas utama budidaya udang menggantikan komoditas udang windu yang produksinya semakin menurun sejak tahun 1996 akibat serangan penyakit dan penurunan kualitas lingkungan.
Hal-hal penting dalam budidaya udang vaname antara lain :
(1) Persiapan tambak bertujuan untuk menghilangkan gas-gas beracun, mengurangi limbah organik dan bibit penyakit yang terakumulasi di lumpur dasar tambak dari proses budidaya sebelumnya, sehingga mencapai parameter kualitas lingkungan optimal dan tidak mempengaruhi kualitas air selama proses budidaya berikutnya. Tambak plastik HDPE, LDPE dan tambak beton selesai panen langsung dilakukan penyemprotan dengan air, pembersihan dasar dan dinding tambak, pembuangan teritip dan organisme yang menempel, dan dikeringkan dengan sinar matahari selama 1 sampai 2 minggu.  Penebaran kapur jenis kapur tohor (CaO) secara merata di seluruh bagian dasar tambak, pengapuran ini bertujuan untuk membunuh bibitbibit penyakit khususnya IMNV (Infectious Myo Necrosis Virus) dan telur atau cysta dari Blue Green Algae (BGA). Dosis kapur yang digunakan adalah 0,5 kg/m2 , jika ada riwayat penyakit WSSV, AHHPND, WFD dan lain-lain maka dosis kapur CaO ditingkatkan dengan dosis 1 kg/m2 kemudian dilakukan perendaman dasar tambak dengan ketinggian air 20-30 cm menggunakan chlorine 100 mg/l dan dapat menggunakan HCl dengan dosis 100 ppm disemprotkan diseluruh permukaan tambak.

(2) Persiapan media pemeliharaan bertujuan untuk memberikan dukungan bagi pertumbuhan dan kelangsungan hidup udang vaname secara optimal. Persiapan air dilakukan untuk proses pembesaran yang bebas bibit penyakit, mengurangi vektor pembawa penyakit yang ada didalam tambak, serta membentuk keseimbangan fitoplankton dan zooplankton di dalam air. Persiapan air media dengan sasaran untuk mencapai parameter kualitas lingkungan optimal.
(3) Manajemen benur bertujuan untuk menekan stress dan kematian benih udang pada saat penebaran supaya mendapatkan tingkat kelangsungan hidup yang tinggi atau kematian benih setelah 24 jam dari penebaran <5%.  Benih udang harus bersertifikat atau memiliki surat keterangan sehat benur vaname, dengan tidak terdeteksi agen penyakit White Spot Syndrome Virus (WSSV), Taura Syndrome Virus (TSV), Infectious Myonecrosis Virus (IMNV), Infectious Hypodermal and Hematopoietic Necrosis Virus (IHHNV), Acute Hepatopancreatic Necrosis Disesase (AHPND), dan Enterocytozoon Hepatopenaei (EHP) (dengan dilengkapi laporan hasil uji dari laboratorium). Secara visual benur harus memiliki ukuran seragam (>95 %) dan panjang minimal 0.8 cm (PL 10). Benur sudah dilakukan adaptasi sesuai salinitas air tambak.

(4) Pengelolaan kualitas air pada prinsipnya adalah usaha untuk mempertahankan atau meningkatkan daya dukung lingkungan agar organisme (udang) yang dibudidayakan dapat hidup dan tumbuh secara maksimal. Pengelolaan kualitas lingkungan yang meliputi fisika, kimia dan biologi agar target kinerja tambak milenial tercapai maka parameter kualitas lingkungan media pemeliharaan harus sesuai dengan standar kualitas air. Hal ini sangat penting untuk mencegah stress pada udang agar terhindar dari kemungkinan terserang berbagai penyakit.

(5) Manajemen pemberian pakan bertujan untuk mengatur pemberian pakan agar kualitas dan kuantitasnya sesuai dengan kebutuhan udang sehingga pertumbuhan udang normal dan kondisi lingkungan pembesaran tetap terkendali. Pemberian pakan dapat diberikan secara optimal. Pakan yang diberikan dapat memberikan nilai pertumbuhan yang optimal.

(6) Manajemen Kesehatan Udang dan Lingkungan bertujuan untuk mengetahui kondisi kesehatan udang vaname. Monitoring kesehatan udang dapat dilakukan dengan beberapa cara. Secara visual dilihat dari nafsu makan, pertumbuhan, kelengkapan organ dan jaringan tubuh, dan gejala klinis yang muncul. Hasil analisa data laboratorium menjadi acuan penetapan tindakan penanganan kesehatan udang. Akurasi kebenaran hasil analisis data laboratorium >90%.

(7) Pemanenan pada pembesaran udang vaname, dilakukan dengan 2 metode yaitu panen parsial (sebagian) dan panen total. Panen parsial adalah pengambilan udang sebagian dari jumlah populasi yang ada ditambak dengan tujuan utama mengurangi jumlah kepadatan udang per satuan luas.  Panen parsial ke -1, biasanya dimulai setelah udang mencapai berat per ekor 10 g/ekor (size 100) atau udang berumur 60 hari. Parsial ke-2 dilaksanakan 2 minggu berikutnya dengan berat udang mencapai 14 s/d 15 g/ekor (size 66- 70),umur 75 hari, dilanjutkan parsial ke 3 umur 90 hari dengan asumsi berat udang 17 g/ekor (size 57).  Panen parsial bertujuan untuk mengurangi kepadatan biomass dan mengurangi kepadatan dalam tambak. Udang yang yang tersisi dipelihara lebih lanjut sehingga dapat tumbuh secara optimal. Dengan mengurangi biomass melalui panen parsial, maka pengelolaan kualitas air dalam tambak lebih mudah dikendalikan, seperti kandungan oksigen terlarut, kandungan amoniak dan H2S serta dapat meningkatkan produktivitas dan daya dukung lingkungan pemeliharaan.

Kesimpulan dalam diskusi dari sosialisasi perikanan ini adalah harapan para pembudidaya vaname agar harga pakan udang dapat turun mengingat saat ini harga satu sak pakan mencapai Rp 380 ribu, sedangkan harga udang di tingkat pembudidaya tidak ada peningkatan.  Harapan lainnya adalah pengerukan saluran inlet (saluran primer irigasi) yang mengalami pendangkalan agar pembudidaya vaname dapat mengisi air tambak lebih mudah.  Semoga harapan para pembudidaya vaname dapat terealisasi, dan di sinilah peran penyuluh dapat menjembatani keinginan rakyat di bawah dengan keinginan Pemerintah (KKP) untuk peningkatan ekspor udang.  Desa Purworejo memiliki potensi dan peluang sebagai Kampung Vaname, maka penyuluh perikanan Lampung Timur dapat melakukan inovasi sesuai arahan MKP dalam Rakornas Penyuluhan 16 Desember 2024.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar